Sering mendengar pertanyaan seperti ini terlontar dari calon customer maupun kawan-kawan pebisnis Kami merasa pertanyaan ini menarik dan perlu untuk dibahas lebih lanjut dengan harapan dapat sedikit memberi sharing bagi Anda yang mungkin juga memiliki pertanyaan serupa

Kami akan memaparkan terlebih dahulu pengertian dari apa itu yang dimaksud dengan jualan dan branding, jualan berarti mencari nafkah dengan memperjualkan sesuatu. Bisa dalam bentuk sebuah produk ataupun jasa

Jualan tidak mensyaratkan adanya tatap muka langsung antara penjual dan pembeli, terlebih di era digital marketing saat ini memungkinkan orang untuk melakukan transaksi jual beli atau sales secara online. Di era inilah berjualan menjadi semakin mudah, sehingga banyak produk baru bermunculan dan menyebabkan tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Melihat hal tersebut, para pelaku bisnis mulai berpikir bagaimana agar produk mereka menjadi pilihan konsumen. Banyak upaya yang mereka lakukan, hingga akhirnya mereka mulai mengenal dan mempelajari istilah branding digital

Salah satu perubahan penting dalam dunia digital marketing saat ini yaitu meningkatnya tendensi konsumen untuk meminta referensi dari teman dan keluarga. Dengan kondisi ini, digital marketing pun dituntut bisa melakukan upaya branding yang baik sebelum melakukan penjualan. Apalagi, bila pemasar bisa membangun strategi word-of-mouth yang kuat dampaknya akan lebih besar lagi.

Upaya branding terdiri dari berbagai medium dan aktivitas yang saling terintegrasi satu sama lainnya, mulai dari salesmarketing, hingga desain. Pada era digital marketing ini saat anda memposting konten ke media sosial, itu adalah upaya branding. Disaat anda menawarkan atau memperkenalkan produk anda, itu juga branding. Pertanyaannya adalah, apakah brand Anda sudah dibuat dengan baik? Apakah cara branding Anda sudah benar?

Pebisnis yang memiliki modal terbatas, biasanya lebih memprioritaskan jualan. Mereka lebih dulu fokus kepada penjualan untuk memperoleh profit margin. Jika digambarkan, hal ini sama seperti prajurit yang turun ke medan perang tanpa memiliki strategi bertempur yang cukup, mereka lebih memilih untuk melihat kondisi lapangan terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan diri. 

Berbeda dengan pebisnis yang lebih leluasa modalnya, mereka memilih untuk mempersiapkan brand mereka secara matang terlebih dahulu, karena ini adalah kunci awal bagi usaha yang sukses. Misalnya dengan membuat konsep brand yang sesuai dengan produk dan target market yang dituju, menciptakan slogan yang tepat, menggunakan media promosi yang relevan, membuat desain visual yang dapat mewakili produk atau jasa yang Anda tawarkan. Mereka yang melakukan hal ini diumpamakan sebagai seorang jendral perang yang percaya bahwa diperlukannya konsep dan strategi sebelum maju berperang.

Dengan melakukan branding, Anda memberikan kesan yang disebut dengan brand image. Anda bisa mengarahkan kesan yang akan diterima oleh konsumen, tapi Anda tidak bisa memastikan kesan yang akan muncul dan melekat di benak konsumen. Sebab, brand image lahir dari penilaian subyektif konsumen berdasarkan aktivitas branding yang Anda lakukan.

Sebagai contoh, Cemilan sota_oreng atau biasa disebut SO. Mereka melakukan branding melalui aktivitas digital marketingnya, yakni dengan program memberikan tester kepada calon customer di konvensional maupun media sosial. Di dalamnya tersimpan tujuan untuk mengetahui cita rasa yang terkandung dalam produk tersebut yang langsung ingin di dapat dari testimoni mereka yang telah mecoba, apakah enak, enak banget atau enak sekali atau disebutkan bahwa bila mereka merasa produk tersebut terlalu asin, terlalu keras, atau kurang sambel, mereka berhak mengutarakannya secara gamblang tanpa ada rasa sungkan. SO ingin mengatakan kepada mereka bahwa SO adalah Cemilan Gorengan dengan cita rasa tinggi dan sangat bergizi agar nantinya costumer mempunyai nilai tambah dalam membeli cemilan itu.

“Memiliki sebuah brand yang baik dan branding yang tepat, memperbesar kemungkinan produk anda dipilih oleh konsumen.”

Irvan Subekti

Metode strategy  branding yang matang memungkinkan Anda dapat lebih mudah melakukan penjualan. Dan juga, dapat membuat konsumen Anda berubah menjadi pelanggan setia. Banyak kasus dimana ketika sebuah brand mengalami krisis, konsumen enggan berpindah ke lain hati karena telah memiliki loyalitas pada brand tersebut.

Kami senang jika dapat membantu dan mensharing serta meningkatkan pengetahuan kita akan sales dan digital marketing Anda

Sukses untuk kita semua semoga bermanfaat

dari berbagai sumber

Diterbitkan oleh sotaoreng

Owner Bisnis Cemilan

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai